Wednesday, June 10, 2015

Memoar - Dunia Retak 5

Aku adalah seorang pelukis. Sebelum hidupku dipenuhi kesia-sian, Aku merupakan pelukis yang banyak menghasilkan karya. Aku beruntung, rumah tempat tinggalku berada di luar pinggir kota di daerah yang tenang dan jauh dari kebisingan serta kesibukan kota. Benar-benar terisolasi dari riuhnya hiruk pikuk kehidupan.


Aku berkewajiban untuk menuliskan semua ini di atas kertas untuk menguraikan berbagai benang ceritaku. Aku harus menjelaskan semuanya untuk kepentingan bayanganku yang ada di dinding.

Ya….. di masa lalu hanya ada satu penghiburan yang tersisa untukku. Di dalam lindungan ke empat dinding kamarku, aku melukis dan dengan demikian, berkat pekerjaanku tersebut, aku berhasil melewati hari. Namun ketika aku melihat kedua mata itu, apapun kegiatanku kehilangan semua makna, isi dan nilainya. Semua tidak berarti apa-apa lagi bagiku.

Aku akan menyebutkan suatu hal yang luar biasa aneh. Untuk beberapa alasan yang tidak ku ketahui tujuannya, semua lukisan yang kubuat memiliki tema yang sama. Selalu terdiri dari pohon-pohon cemara, di kakinya seorang pria tua sedang membungkuk ke bawah. Di sebelahnya berdiri seorang gadis dengan gaun hitam panjang, membungkuk ke arahnya dan menawarkan bunga pagi kemuliaan. di antara mereka mengalir sungai kecil. Apakah subjek gambar ini pernah kusaksikan di masa lalu, atau telah diwahyukan kepadaku dalam mimpi? Aku tidak tahu. Yang kutahu adalah bahwa setiap kali aku duduk, aku selalu membuat lukisan yang sama dengan subyek yang sama pula. Tanganku seolah tak bisa kukendalikan dan selalu akan mewakili kejadian yang sama.

Entah kenapa aku selalu merasa hal ini asing dan pada saat yang sama anehnya, aku merasa kenal. Aku tidak ingat betul ... Aku sadar bahwa aku tidak pernah berkata kepada diriku sendiri bahwa aku harus menulis apa yang ku ingat dari semua ini - tapi banyak yang terjadi kemudian dan tidak ada hubungannya dengan subjek lukisanku. Selain itu, salah satu konsekuensi dari pengalaman ini adalah bahwa aku tidak melukis sama sekali.

By : Herman

  • Share:

0 komentar:

Post a Comment