Wednesday, June 10, 2015

Memoar - Dunia Retak 1

Sebuah renungan yang berangkat dari rasa sakit 
yang sanggup membawaku memasuki sebuah situasi sakral yang misterius.

Sesuatu yang berangkat dari prasangka bahwa aku, alam semesta dan seluruh isinya bukanlah apa-apa, 
terutama pada saat semuanya tenggelam di dalam kesunyian yang tunggal dan utuh.







PROLOG

Lelaki itu pergi seolah lenyap begitu saja dalam gelap. Ia seperti hendak menegaskan bahwa tiap jenis kepergian selalu mengejutkan, dan membuat tak siap mereka yang ditinggalkan. Ibu dan ayahnya, kakak dan teman-teman dekatnya tak begitu sadar bahwa mereka akan betul-betul kehilangan seperti siang itu, ketika bis pelan-pelan merayap dari stasiun.

Ini perpisahan dramatis, serius dan intens, terutama karena penyebabnya – sang pelaku utama – lelaki yang belum pernah melangkah lebih jauh daripada batas kota tempat ia dibesarkan. Ia masih terlalu mudah untuk tidak hilang ditengah keriuhan kota besar yang belum tentu punya hati.

Tapi ini yang tak diketahui orang ; ia menggenggam erat tekad besar, yang membuatnya selalu merasa tak ada yang pantas dicemaskan. Ia menyimpan keyakinan itu sebagai kebenaran yang pelan-pelan akan membuktikan dirinya. Maka ia masih menganggapnya rahasia, yang tak patut diceritakan pada siapapun. Bahkan tidak juga pada ibu atau ayahnya sendiri.

Di dalam bis, lelaki itu menerawang jauh ke Bandung. Pikirannya hanya berisi Bandung dan masa depannya yang masih gelap, yang pelan-pelan sedang dia ‘lukis’ dalam benaknya secara abstrak. Dia sedang ‘membentuk’ hari esoknya sendiri.

Sawah, petani, tanaman, burung-burung kuntul yang putih mulus, kali, bukit-bukit, pepohonan, air, sungai kering, batu-batu hitam, lembu, kambing, jembatan, mobil-mobil dan sepeda, gerobak dan pejalan kaki, yang hanya nampak selintas karena bis yang ditumpanginya melaju begitu cepat dan semuanya berubah menjadi bayangan Bandung yang menyala, terang benderang dengan lampu-lampu neon seperti dalam gambar yang pernah dilihatnya di suatu buku, yang ia tak ingat lagi buku apa. 

Pikiran lelaki itu menerawang jauh ke dunia yang tak dikenalnya, dan berganti dari satu imajinasi ke imajinasi lainnya secara bebas dan leluasa. Dunia khayal dan dunia nyata ia campur aduk begitu rupa. Dan ia yakin betul bahwa mimpinya ini tak akan menjadi sekedar mimpi. Ia sedang memaparkan pilihan-pilihan yang dianggapnya cocok dengan hati dan daya dukung pemikirannya. Ia tak merasa dirinya sedang melamun.

Tapi tentu saja, kalau kecamuk dalam jiwanya ini dikatakan pada orang lain, boleh jadi dia akan dicemooh. Tapi lelaki ini tak peduli. Dan dia yakin, di dalam bis ini, selain dirinya, ada pula orang-orang lain, yang juga sedang melukiskan mimpinya dan menempatkannya di langit biru, dekat bintang-bintang dan bulan. Dengan begitu ia tak bermimpi sendirian. Ia punya teman.

Aku bisa menuliskan kisah ini sampai ke detail-detailnya yang paling dalam dan pribadi, yang akan mustahil diketahui orang lain, bukan karena aku ibarat bulan yang selalu mengintip rahasia malam dan rahasia pribadi yang dikisahkan di malam hari, melainkan karena lelaki itu adalah aku sendiri, dan aku kan menuliskan tentangnya untukmu.

Aku sebenarnya ragu menuliskan semua ini. Jangankan untuk menulis, mengingatnyapun aku sebenarnya enggan. Ada kegetiran jika harus mengingat, apalagi menuliskan semua apa yang telah kualami selama ini, karena sesuatu yang kubawa dalam saku kehidupanku adalah gambaran nyata sebuah kematian dalam hidup. Namun Jika kehidupan akan berakhir pada sebuah kematian, maka apa yang bisa kupersiapkan sebagai bekalku menyambut gerbangnya..... ? Karena itu kutulis cerita hidupku ini dan berharap dapat memberikanmu perjalanan hidup yang belum tentu kau dapatkan. Aku tidak berfikir kalau ini suatu kelemahan atau pengelakan... tetapi mungkin kebajikan terakhir.... yang ingin aku persembahkan kepadamu.

By : Herman

  • Share:

0 komentar:

Post a Comment